GURU PENULIS HEBAT
Drs. Hasyik, M.Pd *)
Nada
dering HP dari kamar sebelah terasa tidak asing di telinga, ternyata benar itu
dering HP milikku. Tergopoh-gopoh kuhampiri HP yang berdering sejak tadi, dari
kejauhan sudah terlihat kalau pesan singkat itu dari dinas lebih tepatnya dari
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep bapak SUNARYANTO, S.STP, MSi.
Benar
saja sekretaris dinas pendidikan mengirim pesan singkat kepada aku "Mohon
bantuannya pak Hasyik, Tulisannya tolong segera disetor ke pendamping , dan
guru2 binaan nya utk dipecut lagi, semangat nya, biar cepet selesai tugas kepenulisan
nya" agak kaget juga masalahnya aku tidak biasa menulis, belum sempat kubalas
SMS kedua masuk, "Ditunggu karya hebat nya pak" dalam hati bergumam
jangankan karya hebat karya biasa-biasa saja aku belum tentu bisa, aku jadi
berpikir sejenak apa yang mau aku tulis sementara aku tidak punya pengalaman
menulis sehebat teman-teman yang lain di goup guru menulis, sudah lama sekali
tidak berpikir ke arah sana yang ada di pikiranku bagaimana mendorong guru agar
para guru menjadi guru yang profesional paham akan tugas dan tanggung jawabnya
sebagai guru sehingga murid-muridnya dilayani secara maksimal, dengan jujur aku
jawab WA bapak sekretaris dinas pendidikan, "Wah saya tdk bs menulis pak
Sekdis... baik non fiksi apalagi fiksi biar aku desak Guru-guru yg memang
secara suka rela bergabung pada group guru menulis " rupanya bapak
sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep tidak menyerah begitu saja SMS
berikutnya pun masuk di HP aku, "Ayo semangat pak, pengawas senior jangan
kasih kendor buat tulisan praktik baik seorang pengawas dlm Ikm." Aku mulai tak berdaya mendapat pesan singkat
seperti itu dari seorang sekretaris dinas pendidikan.
Sejak
saat itu aku mulai berpikir apa yang akan aku tulis sementara di minggu ini
bahkan di bulan ini kegiatan sangat padat baik sebagai pengawas, pelatih
pembina Pramuka maupun sebagai instruktur guru TK-TP Al-Qur’an, sebut saja
sebagai pelatih minggu ini harus melatih guru dan calon guru di STKIP PGRI
Sumenep dengan jenis kursus KMD Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar,
dalam waktu yang bersamaan Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk
menyelenggarakan pelatihan bagi calon ustadz dan ustadzah berupa pelatihan
ustadz ustadzah TK Al-Qur’an. Tentu dua kegiatan ini baik di STKIP maupun di Pondok
Pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk sangatlah menyita waktu aku di luar dinas,
namun demikian apapun yang terjadi aku harus mencobanya.
Di
usiaku yang tidak bisa dibilang muda lagi ternyata sangat susah menuangkan buah
pikiran yang enak dibaca orang, buku-buku yang sudah lama tersimpan rapi
sebagai hiasan di lemari buku akhirnya dibuka kembali, tulisan beberapa guru
yang memang sudah sejak lama menulis menjadi incaran pertama dalam membaca.
Lembar
demi lembar kubaca dn kucoba mengikuti irama penulis,beberapa lembar saja aku
baca buku itu terasa enak ringan dan mudah dipahami maksud dari isi bacaan itu.
Kemudian aku berpikir bisakah aku menulis sehebat guru ini, sejak kapan mereka
menulis kok bisa sebagus ini, nyali aku pun mulai ciut bahkan merasa tidak
mungkin bisa menulis sebagus itu, di sisi lain aku berpikir kapan kesempatan
mereka menulis sementara tugas mereka juga banyak; sebagai guru, sebagai suami
atau istri, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, tentulah hal ini
menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Dingin
terasa menyelimuti seluruh tubuhku, aku baru sadar kalau aku ternyata tertidur
pulas di ruang keluarga. Saat mau pindah ke tempat tidur terdengar suara adzan
dari masjid dekat rumahku, kupikir itu adzan subuh yang berkumandang ternyata
setelah kulihat jam dinding baru menunjukkan pukul 02.30 itu artinya adzan yang
berkumandang adalah adzan pertama menandai waktu salat malam tiba.
Hari yg indah
"Salam
Pramuka" sapa salah seorang peserta kursus pembina Pramuka mahir tingkat
dasar (KMD) saat lewat di depanku menuju tempat kegiatan, "salam.....
silakan kakak selamat beraktifitas" jawabku seraya menutup pintu mobil.
Siang itu mentari seakan enggan menampakan dirinya walau sesekali terlihat
senyum menghiasi langit kelam kala itu, entah beberapa orang yang sudah lewat
di sampingku bergegas lari-lari kecil menuju tempat kegiatan yang sudah dimulai
oleh salah seorang pelatih. Dari kejauhan nampak seorang pelatih baru keluar
dari mobilnya, rupanya dia juga baru datang berarti dia bertugas di siang hari
sampai malam, ternyata dia itu Kak Surahman, dia juga sebagai pengawas di Dinas
Pendidikan Kabupaten Sumenep. Jadwal kegiatan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat
Dasar memang menempatkan para pelatih ASN/PNS pada jadwal lepas dinas sehingga
tidak mengganggu dinasnya. Walaupun secara resmi atau formal mereka sudah
diminta oleh Kwarcab kepada Dinas masing-masing untuk ditugaskan dalam kegiatan
Gerakan Pramuka.
Ach.Surahman,M.Pd.
salah seorang pengawas Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep yang juga dilibatkan
pada kegiatan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar, kami pun terlibat
perbincangan ringan, seru bahkan perihal tugas-tugas dinas yang kami lakoni
beberapa saat kami bertemu, tidak terkecuali program Dinas tentang guru
menulis, sungguh kami berdua sangat mengapresiasi hal tersebut walau dengan
kekhawatiran tertentu. Kekhawatiran dimaksud adalah mampukah guru-guru
melakukannya dengan baik, sementara tugas mereka amatlah berat baik sebagai
pendidik, sebagai anggota keluarga (sebagai kepala rumah tangga atau sebagai
ibu rumah tangga), juga sebagai anggota masyarakat yang di dalamnya terdapat
berbagai kegiatan baik bersifat rutin maupun insidentil yang harus diikuti
sebagai bentuk kepedulian sosial. Kita semua paham bahwa tugas guru bukan hanya
mengajar (mentransfer) ilmu kepada peserta didik lebih-lebih di era kurikulum
yang berbasis kompetensi, "Kompetensi
diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan
melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga
hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap
seperangkat kompetensi tertentu".(KBBI)
Sambil
menarik tanganku untuk duduk santai di teras mushalla STKIP beliau pun
memaparkan tentang kekhawatirannya terhadap kompetensi guru terkait tugas
pokoknya sebagai pendidik, "Coba kita tengok tugas, peran dan tanggung
jawab seorang guru seperti kita temukan di link Kemendikbudristek guru berbagi
artikel", keluhnya sambil menatapku tajam.
Dia
pun memaparkan tentang sebuah tulisan yang ditulis oleh salah seorang guru pada
guru berbagi artikel pada laman :
https://www.perantiguru.com/2020/03/tugas-dan-peran-guru.html
"Guru
adalah sosok yang dapat membentuk jiwa dan watak peserta didik. Guru mempunyai
kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang
yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa."
Dengan
gayanya yang persentatif dia pun melanjutkan kisahnya tentang guru yang
dibacanya dari sebuah laman guru berbagi. Bak seorang penceramah dia mulai
mengayun ayunkan tangannya bahkan sesekali menunjuk ke arahku. Aku menganguk
angguk saja tanda setuju walau terkadang suaranya kurang jelas karena terlalu
cepat."Guru bertugas mempersiapkan manusai susila yang dapat diharapkan
membangun dirinya dan membangun bangsa dan Negara. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah
pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah."
Sejenak
kami berhenti berdialog tentang guru saat salah seorang dosen menyapa kami,
"asyik banget diskusinya, pasti membahas sesuatu yang sangat penting"
tegur sapanya pada kami yang memang dari tadi asyik berdiskusi, "Siap pak
dosen, hanya bincang-bincang santai" spontan Kak Surahman menjawab sapaan
dosen STKIP PGRI Sumenep yang memergoki kami sedang asyik berbincang.
Sambil
otak atik HP keakungannya dia pun melanjutkan penjelasannya tanpa mnghiraukan
pak dosen yang bergegas meninggalkan kami. "Kamu tahu tidak,"
tanyanya singkat, "ya nggak tahu lah kalau tidak diberi tahu" jawabku
datar. "Tentang apa dulu, jangan terlalu serius membahasnya biar nggak
cepat tua" candaku mengalihkan suasana. "Coba baca tulisan ini"
sambil menunjukkan HP yang dari tadi diotak-atik. seraya mendorong mukaku
kutarik HP dari tangannya aku membaca tulisan
dimaksud.
"Tugas
Umum.”
Tugas Guru Secara Umum
adalah mendidik, dalam oprasionalisasinya mendidik adalah rangkaian proses
mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, membentuk contoh dan
membisakan." Begitu yang aku baca di HP-nya. Tidak cukup sampai di situ
dia memintaku terus membacanya. Aku pun menuruti keinginannya melanjutkan
membaca tulisan dimaksud,:
Tugas khusus
1. Sebagai pengajar
Sebagai pengajar
(intruksional), guru bertugas merencanakan progam pengajaran, melaksanakan
progam yang telah disusun dan melaksanakan penilaian setelah progam itu
dilaksanakan.
2. Sebagai pendidik
Sebagai pendidik
(edukator) guru bertugas mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang
berkepribadian sempurna."
3. Sebagai pemimpin
Sebagai pemimpin, guru
bertugas memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat
yang terkait, menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan,
partisipasi atas program yang dilakukan.
Usai
membaca tulisan itu aku bertanya dengan nada datar, "Memangnya ada apa
dengan tulisan ini, bukannya memang begini tugas guru", celotehku pura-pura tidak tertarik dengan
tulisan itu padahal Hati kecilku kagum dan berkata alangkah indahnya andai saja
semua guru binaanku membaca, memahami dan melaksanakan apa yang seharusnya
dilaksanakan oleh seorang guru profesional, alangkah senang hatiku.
Tak
terasa panas menerpa sebagian tubuhku, rupanya matahari telah menampakkan diri
dan menunjukkan keberadaannya, kami pun bergeser menghindari panas matahari
yang mulai menyengat, sesekali Kak Surahman menjulurkan kepalanya sembari
melihat aktivitas peserta Khusus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar yang sedang
menempa diri untuk terjun beraksi di Gugus Depan nya nanti.
Dengan
semangat berapi api dia pun melanjutkan perbincangannya tentang guru maklum
saja Dia diangkat menjadi guru sejak dia keluar SMA atau SPG saat itu. Di
usianya yang seharusnya sudah pensiun karena sudah mencapai usia tertinggi
yakni 60 tahun, akan tetapi mendapat penghargaan dari pemerintah karena pangkat
dan jabatan fungsional yang didudukinya telah memenuhi syarat untuk dapat
diperpanjang tugasnya menjadi 65 tahun sebagai abdi negara sesuai dengan regulasi
yang ada. Jadi tidak heran kalau dia sangat paham betul tentang tugas dan
tanggung jawab seorang guru. "Coba lihat ini, kamu pasti terkesima
dibuatnya" katanya sambil menunjukkan tulisan di HP-nya. Walau sedikit
agak capek ku paksakan untuk membacanya, ternyata tulisan yang dimaksud adalah
kelanjutan dari tupoksi guru yang dibukanya dari laman Kemendikbudristek RI.
"Peran, tugas dan tanggung jawab Guru" begitu yang kubaca dibagian
atas pada laman tersebut.
Perkembangan baru
terhadap pandangan belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk
meningkatkan peranan dan kompetensinya. Karena pada dasarnya proses
belajar-mengajar dan hasil belajar peserta didik sebagian besar ditentukan oleh
peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan
lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya
sehingga hasil belajar peserta didik berada pada tingkat optimal.
Sungguh
itu tulisan yang bagus dan layak dibaca guru bahkan tidak sekedar layak tapi
sangat perlu agar para guru menyadari eksistensinya. Sejenak aku melempar angan
pada sebuah situasi dimana seorang guru memainkan perannya sebagai pendidik
handal dan profesional. Dengan rasa penasaran aku lanjutkan membaca tulisan
itu.
Beberapa peranan yang dianggap
paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Guru Sebagai Organisator
Guru berperan untuk
menciptakan proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara
formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral(kepada
sasaran didik,serta Tuhan yang menciptakannya).
2. Guru sebagai Demonstrator
Sebagai demonstrator
dan pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran
yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkan dan meningkatkan kemampuan
yang dimilikinya.
Salah satu yang harus
diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru
harus belajar terus-menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya
dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pengajar dan demonstrator serta mampu memperagakan apa yang
diajarkannya secara didaktis sehingga apa yang disampaikan itu betul-betul
dimiliki oleh anak didik.
Seorang guru hendaknya
mampu dan terampil dalam merumuskan TPK serta memahami kurikulum. Selain itu,
guru juga harus memahami dirinya sebagai sumber belajar dan terampil dalam
memberikan informasi kepada peserta didik. Sebagai pengajar ia pun harus
membantu perkembangan peserta didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai
ilmu pengetahuan. Dengan demikian seorang guru akan dapat memainkan peranannya
sebagai pengajar dengan baik.
3. Guru sebagai Pengelola
kelas
Guru dalam peranannya
sebagai pengelola kelas, hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan
belajar serta mengorganisasikan lingkungan sekolah. Lingkungan ini diatur dan
diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah pada tujuan-tujuan pendidikan.
Pengawasan terhadap
lingkungan belajar itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi
lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik bersifat menantang dan
merangsang peserta didik untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam
mencapai tujuan.
Kualitas dan kuantitas
belajar peserta didik di dalam kelas bergantung pada banyak faktor, antara lain
ialah guru, hubungan pribadi antara peserta
Sejenak
ku berhenti membaca selain sudah agak capek khawatir sudah masuk jadwal aku
sehingga sesekali aku pun melongohkan kepala untuk memastikan aktivitas kursus
pembina Pramuka Mahir tingkat dasar yang di ampuh teman pelatih lain belum
berakhir.
"Kenapa
berhenti membaca tambah seru kan," celotehnya seakan mengejekku karena
serius membaca. Jujur Aku kagum dan berharap tulisan ini dibaca oleh para guru
agar keberadaannya benar-benar dirasakan oleh siswanya, tapi bagaimana caranya
sementara guru-guru sibuk dengan berbagai aktivitas di luar tugas pokoknya.
Tanpa basa-basi ku lanjutkan membaca tulisan itu.
4. Guru Sebagai Fasilitator
Sebagai fasilitator,
guru memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
5. Guru Sebagai Mediator
Sebagai mediator, guru
hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media
pendidikan, karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih
mengefektifkan proses belajar-mengajar.
Media pendidikan
merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan
bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga
harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media
itu dengan baik.
Untuk menjadi guru
perlu mengalami latihan-latihan praktik secara kontinue dan sistematis, baik
melalui pre-service maupun inservice training. Pemilihan dan penggunaan media
pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, kemampuan guru
serta minat dan kemampuan peserta didik.
Sebagai mediator guru
pun menjadi perantara dalam hubungan antar manusia. Untuk keperluan itu guru
harus terampil menggunakan pengetahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan
berkomunikasi. Tujuannya agar guru dapat menciptakan secara maksimal kualitas
lingkungan yang interaktif.
Dalam hal ini ada tiga
macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu mendorong berlangsungnya
tingkah laku sosial yang baik, mengembangkan gaya interaksi pribadi, dan
menumbuhkan hubungan positif dengan para peserta didik.
6. Guru Sebagai Motivator
Sebagai motivator, guru
hendaknya dapat mendorong anak didik agar semangat dan aktif belajar.
7. Guru Sebagai Inspirator
Sebagai inspirator,
guru harus memberikan inspirasi bagi kemajuan belajar peserta didik. Persoalan
belajar adalah masalah utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk
bagaimana cara belajar yang baik.
8. Guru Sebagai Klimator
Sebagai klimator, guru
berperan untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan.
9. Guru Sebagai Informator
Sebagai informator,
guru harus bisa menjadi sumber informasi kegiatan akademik maupun umum
10. Guru Sebagai Inisiator
Sebagai inisiator, guru
harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
11. Guru sebagai Kulminator
Sebagai kulminator,
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal
hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap
kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui
kemajuan belajarnya.
12. Guru Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan
atau bentuk pendidikan, pada waktu tertentu selama satu periode pendidikan,
guru selalu mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil yang telah
dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.
Demikian pula dalam
satu kali proses belajar-mengajar, guru hendaknya menjadi seorang evaluator
yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah
dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan selalu
cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan penilaian, guru
dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan peserta didik
terhadap pelajaran, serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar. Tujuan
lain dari penilaian diantaranya ialah untuk mengetahui kedudukan peserta didik
di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian, guru dapat mengklasifikasi
"Prittttt
prittttttt prittttttt " terdengar bunyi peluit pimpinan kursus membentuk
formasi baru sekaligus menandai kegiatan sesi 2 berakhir. Kami pun bergegas
menuju tempat kegiatan kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar. Ternyata
pimpinan kursus meminta waktu untuk menyampaikan beberapa hal penting kepada
peserta. Kami berdua menunggu dengan sabar di pojok lapangan di sebuah kursi
panjang yang memang disiapkan oleh panitia. Dengan penuh penasaran dan rasa
ingin tahu dari bacaan di HP kak Surahman, aku pun meminta membukanya kembali
untuk melanjutkan membaca tulisan yang tadi sempat terhenti oleh bunyi peluit
yang menandakan pergantian materi. "Ternyata kamu penasaran juga ingin
membacanya sampai akhir kan," tanyanya sambil membuka HP dan link
Kemendikbudristek pada laman 'ayo guru berbagi'. "ya iyalah agar
mendapatkan pengetahuan yang lengkap" jawabku singkat. Setelah lama di
otak-atik dia pun menyulurkan hp-nya kepadaku untuk melanjutkan membaca, agak
lama juga aku mencari kelanjutan tulisan yang sudah kubaca tadi.
11. Guru sebagai Kulminator
Sebagai kulminator,
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal
hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap
kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui
kemajuan belajarnya.
12. Guru Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan
atau bentuk pendidikan, pada waktu tertentu selama satu periode pendidikan,
guru selalu mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil yang telah
dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.
Demikian pula dalam
satu kali proses belajar-mengajar, guru hendaknya menjadi seorang evaluator
yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah
dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan selalu
cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan penilaian, guru
dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan peserta didik
terhadap pelajaran, serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar. Tujuan
lain dari penilaian diantaranya ialah untuk mengetahui kedudukan peserta didik
di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian, guru dapat
mengklasifikasikan apakah seorang peserta didik termasuk kelompok peserta didik
yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan
dengan teman-temannya.
Selesai
sudah aku membaca dari awal sampai akhir tulisan yang ditunjukkan oleh kak
Surahman, menurutnya bagus bahkan dia berharap aku menyampaikan kepada guru-guru
di sekolah binaanku, "Berikutnya kita akan berproses dengan Kak Asyik
salah satu pelatih yang kita miliki dan menjadi pelatih Kwartir Daerah Jawa
Timur bahkan satu-satunya pelatih dari Madura," dengan nada lantang
pimpinan kursus memperkenalkan aku kepada seluruh peserta Kursus Pembina
Pramuka Mahir Tingkat Dasar, yang dilaksanakan di STKIP PGRI Sumenep
bekerjasama dengan kwartir cabang gerakan Pramuka Sumenep. Seraya menyerahkan
HP milik Kak Surahman aku pun bergegas menuju formasi yang telah dibuat oleh
pimpinan kursus. Usai memanggil salam dan mukadimah aku sampaikan kurikulum
vitaeku.
"Nama
lengkapku Muhammad Hasyik, di ijazah tertulis Hasyik nama panggilan Kak Asyik,
aku dilahirkan 57 tahun yang lalu tepatnya di kampung duko Timur, desa Ellak
laok kecamatan Lenteng." Mereka diam seribu bahasa tak ada seorangpun yang
nyeletuk entah kenapa, aku pun melanjutkan menyampaikan kurikulum Vitaeku.
"Aku memang lahir di kampung bahkan namaku juga mungkin kampungan tapi
yang pasti penampilanku tidak kampungan, mulutku tidak kampungan, otakku pun
tidak kampungan, terbukti sekarang aku terpilih menjadi pelatih kalian, bahkan
satu-satunya pelatih kwartir daerah Jawa Timur dari Madura." Mereka
bertepuk tangan kompak tanpa komando. Sebenarnya saya enggan memperkenalkan
diri sebagai satu-satunya Pelatih Jawa Timur yang dari Madura, tapi karena
sudah diperkenalkan oleh pimpinan kursus apa boleh buat, mungkin menjadi
kebanggaan tersendiri bagi pelatih Sumenep karena salah seorang anggota
pelatihnya menjadi anggota pelatih kwartir daerah Jawa Timur. Saat tepuk tangan
berhenti aku pun melanjutkan menyampaikan kurikulum Vitaeku. "Pengalaman
organisasi dalam gerakan Pramuka aku pernah menjadi Pratama saat Penggalang dan
pernah mengikuti kemah bergengsi yaitu Jambore Nasional dan Jambore Asia
Pasifik tahun 1981, menjadi Pradana saat penegak bahkan menjadi anggota Dewan
Kerja Cabang DKC Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Sumenep sekitar tahun 1985 s/d
1990." Mereka pun kembali bertepuk tangan untuk yang kedua kalinya. Sesaat
setelah tepuk tangan aku lanjutkan kembali menyampaikan kurikulum vitaeku.
"Saat menjadi anggota dewasa Saya pernah menjadi ketua Kwartir Ranting Gerakan
Pramuka Kecamatan Lenteng, Waka Binamuda (wakil ketua Pembinaan Anggota Muda di
Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Sumenep, dan masih banyak lagi pengalaman
organisasi lainnya di luar gerakan Pramuka antara lain ketua PGRI cabang Lenteng, ketua 1 Pengurus Daerah PGRI
Kabupaten Sumenep." Perkenalan singkat pun selesai aku melanjutkan materi
kepelatihan sesuai dengan rencana melatih (RM) yang sudah aku buat sebelumnya.
*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan yang saat ini menjadi Pengawas Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Kabupaten
Sumenep

menginspirasi👍🏽
BalasHapus